Ribuan Spesies Ditemukan dalam Lingkungan Ekstrim
Danau di Kedalaman Es Antartika
Sabtu, 6 Juli 2013 - Keberadaan
spesies laut dan air tawar mendukung hipotesis bahwa danau tersebut pernah
terhubung ke laut, dan bahwa air tawar tersimpan ke dalam danau oleh gletser
yang tergeser ke dalam.
Danau
Vostok, terpendam di bawah gletser di Antartika, sebuah kawasan yang
begitu gelap, dalam dan dingin, yang dijadikan oleh para ilmuwan sebagai
model untuk kondisi ekstrim di planet lain, tempat yang diduga tak mungkin
ditempati organisme apapun untuk hidup. Namun, penelitian dari Dr. Scott
Rogers, seorang profesor ilmu biologi di Bowling Green State University,
bersama rekan-rekannya, secara mengejutkan telah menyingkap berbagai bentuk
kehidupan yang bersemayam dan bereproduksi dalam lingkungan yang
paling ekstrim tersebut. Sebuah makalah yang dipublikasikan dalam jurnal PLoS
ONE (Public Library of Science) edisi 26 Juni, merinci ribuan
spesies yang teridentifikasi melalui pengurutan DNA dan RNA.
“Batas-batas
pada apa yang layak huni dan apa yang tidak berubah,” umbar Rogers. Hasil
studi kini menjadi artikel keempat yang dipublikasikan tim riset
dalam menginvestigasi Danau Vostok. Riset yang memakan biaya lebih
dari 250 ribu dolar ini terwujud berkat dukungan beberapa pendanaan: dua
hibah di antaranya berasal dari National Science Foundation, satu dari U.S.
Department of Agriculture dan satu lagi dari Komite Riset Fakultas Bowling
Green State University.
Saat berpikir tentang
Danau Vostok, Anda harus berpikir besar. Selain sebagai yang terdalam keempat
di dunia, danau ini juga yang terbesar dari sekitar 400 danau subglasial yang
ada di Antartika. Es yang menutupinya selama 15 juta tahun kini memiliki
kedalaman sejauh lebih dari dua mil, menciptakan tekanan yang besar pada danau.
Beberapa nutrisi tersedia di sana. Danau ini terletak jauh di bawah permukaan
laut dalam sebuah tekanan yang sudah terbentuk sejak 60 juta tahun yang
lalu di saat lempeng benua bergeser dan terpecah-pecah. Iklim di sana
begitu keras dan sulit ditebak sehingga, untuk mengunjunginya, para ilmuwan
harus berbekal peralatan khusus dan pelatihan bertahan hidup.
Tidak hanya dianggap
sebagai tak layak huni, Danau Vostok bahkan diduga sebagai lingkungan yang
steril. Namun apa yang ditemukan Roger lewat penelitian ini jauh di luar
dugaan. Bekerja dengan menyingkirkan bagian-bagian inti dari lapisan dalam es
yang menggumpal dari air danau yang membeku hingga ke bagian dasar gletser
yang berhimpitan dengan danau, Rogers meneliti es semurni berlian
yang terbentuk dalam tekanan besar dan suhu relatif hangat yang bisa
ditemukan pada kedalaman seperti itu. Tim riset mengambil sampel berupa
beberapa inti dari dua area di danau tersebut; cekungan utama sebelah selatan
dan area dekat teluk di ujung barat daya danau.
“Kami menemukan
kompleksitas lebih dari yang dipikirkan siapapun,” seru Rogers, “Ini
sungguh menunjukkan kegigihan hidup, juga menunjukkan bagaimana organisme
dapat bertahan hidup di tempat yang mana beberapa tahun lalu sempat
kami kira takkan ada yang bisa bertahan hidup.”
Dengan mengurutkan DNA
dan RNA dari sampel gumpalan es, tim riset mengidentifikasi ribuan bakteri,
termasuk beberapa yang biasanya ditemukan dalam sistem pencernaan ikan, krustasea
dan cacingAnnelida, selain jamur dan dua spesies archaea,
atau organisme bersel-tunggal yang cenderung hidup di lingkungan ekstrim.
Spesies lain yang teridentifikasi berhubungan dengan habitat berupa sedimen
danau atau laut. Psychrophiles, atau organisme yang hidup di
lingkungan dingin yang ekstrim, ditemukan bersamaan dengan penghuni lingkungan
panas, thermophiles, menunjukkan adanya ventilasi hidrotermal di
danau tersebut. Menurut Rogers, keberadaan spesies laut dan air tawar ini
mendukung hipotesis bahwa danau tersebut pernah terhubung ke laut, dan bahwa
air tawar tersimpan ke dalam danau oleh gletser yang tergeser ke dalam.
Jumlah spesies secara
keseluruhan paling banyak ditemukan di area dekat teluk, termasuk yang umumnya
hidup di lingkungan air tawar, serta spesies laut, psychrophiles dan thermophiles.
Sejumlah besar spesies lain yang ditemukan masih belum teridentifikasi. Teluk di
area danau tersebut tampaknya banyak berisi aktivitas biologis.
“Banyak dari spesies
yang kami urutkan merupakan jenis yang bisa kita temukan di sebuah
danau,” ungkap Rogers, “Sebagian besar organisme tampaknya mahkluk air
(air tawar), dan banyak spesies yang biasanya hidup di sendimen laut atau
danau.”
Bagi Yury Shtarkman,
salah satu bagian dari tim riset, proyek ini terbukti sangat mengasyikkan, dan
bahkan berhasrat untuk seumur hidup bisa terlibat dalam studi semacam
ini. “Ini adalah proyek yang sangat menantang dan semakin Anda mempelajarinya,
semakin Anda ingin tahu,” ujarnya, “Setiap hari Anda menemukan hal yang
baru dan menggiring ke arah lebih banyak pertanyaan yang harus
dijawab. Dalam mempelajari DNA dan RNA lingkungan, kami memeriksa pada
seberapa miripkah urutan-ururtan ini dengan urutan-urutan organisme yang sudah
diidentifikasi dalam database nasional. Kami menelusuri evolusi dan ekologi danau itu sendiri.
Sebelum 35 juta tahun
yang lalu, Antartika merupakan kawasan beriklim
hangat yang dihuni oleh beragam tanaman dan hewan. Kemudian, sekitar 34
juta tahun lalu, “terjadilah penurunan suhu secara besar-besaran” dan es
menutupi kawasan danau di saat danau itu mungkin masih
terhubung dengan Samudera Selatan. Peristiwa ini menurunkan tingkat
permukaan laut hingga sekitar 300 meter, yang serta
merta memotong Danau Vostok dari lautan lepas. Lapisan es
mengalami turun naik hingga akhirnya kembali terjadi penurunan suhu besar-besaran sekitar
14 juta tahun yang lalu, menyebabkan permukaan laut mengalami tingkat
penurunan yang jauh lebih rendah dari sebelumnya.
Seiring merambatnya es
hingga ke seberang danau, kawasan danau itu kian jatuh ke dalam kegelapan total
dan terisolasi dari atmosfer, menyebabkan meningkatnya tekanan dari bobot berat
gletser. Mungkin banyak spesies yang menghilang dari danau tersebut, namun
tampaknya banyak pula yang mampu bertahan seperti yang ditunjukkan Rogers dalam
penelitian ini.
Selama bertahun-tahun
tim Rogers bekerja untuk mengidentifikasi dan mempelajari organisme
dalam gumpalan es Vostok dengan menggunakan prosedur yang melibatkan
koloni bakteri dan jamur yang terkultur, namun prosesnya sangat
lambat, terutama bagi mahasiswa pascasarjana yang membutuhkan hasil untuk
tesis.
“Kami mulai berpikir
untuk melakukannya dengan cara yang berbeda,” tutur Rogers. Alih-alih
menggunakan organisme hidup yang terkultur, mereka berkonsentrasi pada
pengurutan DNA dan RNA di dalam es. Metode ini, yang disebut metagenomics dan metatranscriptomics,
menghasilkan ribuan urutan dalam sekali waktu untuk kemudian dianalisis
menggunakan komputer – prosedur yang secara kolektif disebut sebagai metode
“Big Data”. Sebaliknya, dengan prosedur lama biasanya dibutuhkan waktu bertahun-tahun
untuk menghasilkan organisme berkultur yang cukup untuk beberapa lusin
urutan.
Masalahnya jadi berubah, dari yang tadinya memiliki terlalu sedikit urutan
menjadi memiliki terlalu banyak urutan untuk dianalisis, kata Rogers. Setelah
dua tahun analisis komputer, hasil akhir menunjukkan bahwa Danau Vostok berisi
serangkai ragam mikroba, termasuk beberapa organisme multiseluler.
Jauhsebelum mulaimenggunakan metagenomics dan metatranscriptomics untuk
mempelajari es, Rogers dan timnya sempat mengembangkan sebuah metode untuk
memastikan kemurnian es. Bagian inti es direndam ke dalam larutan natrium
hipoklorit (pemutih), kemudian dibilas tiga kali dengan air
steril, menyingkirkan lapisan luarnya. Dalam kondisi yang sangat steril,
inti es yang tersisa kemudian meleleh, tersaring dan membeku-ulang.
“Dengan menggunakan
metode ini, kami dapat menjamin kehandalannya hampir 100 persen,” kata Rogers.
Pada akhirnya, proses dalam metode ini menghasilkan pelet asam nukleat
yang mengandung DNA dan RNA, saatnya untuk bisa diurutkan.
Rogers merasa
bahwa timnya melakukan kesalahan besar dari sisi konservatif dalam
melaporkan hasil-hasil riset tersebut, termasuk berupa urutan-urutan yang
bisa saja hanya berasal dari gumpalan es, namun banyak pula urutan lain yang ia
rasa mungkin berasal dari danau, membuka jalan awal untuk penyelidikan
tambahan.Urutan DNA yang sudah mereka hasilkan kini tersimpan dalam database National
Center for Biotechnology GenBank, dan tersedia bagi para peneliti lain
yang melakukan studi lebih lanjut.